Perjalanan Menegangkan Melawan Arus Sungai Menuju Desa Air Liki

Header Menu


Perjalanan Menegangkan Melawan Arus Sungai Menuju Desa Air Liki

GenMils
Jumat, 09 November 2018

Perjalanan melawan arus Sungai Batang Tabir saat menuju Desa Air Liki, Merangin, Jambi

Perjalanan lima jam dari Bandara Muara Bungo menuju Desa Ngaol di Kabupaten Merangin cukup menyita tenaga. Karakteristik jalan bergelombang naik turun.

Goncangan yang dirasakan di dalam mobil makin terasa karena kondisi jalan sudah rusak parah. Tapi semua terbayar saat tiba di Ngaol.

Matahari sudah bergerak mendekati ufuk Barat saat rombongan dari UNDP, Baznas, Kementerian ESDM, dan puluhan jurnalis berbagai platform yang diajak ikut serta tiba di Desa Ngaol, Senin (3/9/2019).

Sudah pukul 16.00. Semua merasakan kelelahan. Perjalanan belum berakhir, desa tujuan masih jauh.

Setelah istirahat sekitar 30 menit, semuanya lalu berjalan ke arah sungai. Tas dan koper disimpan di sebuah rumah, peserta hanya membawa sepasang pakaian ganti dan peralatan liputan.



Jas hujan tipis dan jaket pelampung kemudian dibagikan. Semuanya lalu berjalan ke tepi Sungai Batang Tabir.

Belasan ketek (bentuknya seperti sampan yang dilengkapi bermesin) berjejer di tepi sungai itu. Satu ketek diisi dua hingga tiga orang, ditambah nahkoda.

Senyum bahagia terpancar di wajah sebagian besar peserta Media Trip Visit PLTMH Jambi, seperti sudah lupa baru saja melintasi jalan terjal di sepanjang perjalanan.

Sebagian kecil terlihat sepertinya dilanda ketakutan menaklukkan sungai ini.

“Perjalanan dua jam lagi menuju Desa Air Liki,” ungkap seorang nahkoda ketek.

Air Liki jadi desa pertama yang akan dijamah rombongan. Desa Ngaol hanya untuk persinggahan hari itu.

Dia lalu menghidupkan mesin berbahan bakar bensin. Bunyi mesin bagaikan namanya.

Ketekketekketekketek. Bunyi itu menderu sepanjang perjalanan dari Ngaol menuju Air Liki. Madi bilang nama Ketek merupakan terjemahan dari suara yang dihasilkan mesin saat berada di atas air.

“Jangan terlalu banyak bergerak di atas ketek, bisa oleng,” saran nahkoda itu sebelum perjalanan.

Perjalanan ini merupakan perjalanan melawan arus sungai. Sesekali air sungai memercik ke dalam ketek. Menggunakan jas hujan menjadi alternatif agar tidak basah kuyub.

Sang nakhoda terlihat begitu terampil mengemudikan ketek itu. Dia sudah hafal betul rutenya, sehingga tahu jalur aman.

Lebatnya pepohonan di kiri dan kanan sungai sungguh memanjakan mata. Sungai ini memang diapit oleh hutan. Pepohonan menjulang tinggi, mungkin sudah berumur ratusan tahun.

Bukit yang jauh di atas sana, yang ditumbuhi pepohonan lebat, seakan memanggil-manggil meminta diciumi aromanya.

Di tengah sungai banyak bebatuan besar yang memecah aliran air. Lalu di pertengahan jalan terlihat dua air terjun yang airnya menghempas ke tanah.

Beberapa ekor kerbau berdiri di tepi sungai itu dan melihat  ke arah orang-orang yang sedang naik ketek. Monyet juga tak mau ketinggalan, mereka menunjukkan aksi bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain. Rasanya bagai melihat surga.

Setelah perjalana hampir dua jam akhirnya tiba juga di pelabuhan Desa Air Liki. Perjalanan berlanjut naik ojek, menghabiskan waktu sekitar 30 menit.

Jalannya berupa jalan setapak yang telah dicor. Tapi sayang, banyak titik yang sudah rusak. Jalannya tidak datar, tapi mendaki dan menurun, bahkan ada yang cukup curam. Di samping kiri adalah jurang yang dalamnya sekitar 5-10 meter.

Tuhan menyertai dalam perjalanan. Semua sampai di tujuan dengan selamat. Kepala Desa Air Liki, Pulpi Marlinton, beserta warga setempat, menyambut hangat kedatangan rombongan.

Satu jam kemudian semua makan malam bersama di rumah kepala desa. Mereka menyuguhkan menu ala kampung. Nasi yang pulen, gulai pakis, dan ikan anak semah sambal.

Rasanya? Semua makan lahap, bahkan ada yang nambah hingga dua kali, karena sensasi rasanya yang luar biasa. (*)

Key Word: Wisata Alam, Wisata Bahari, Desa Air Liki, Sungai Batang Tabir,